Cap Tikus adalah jenis cairan berkadar alkohol rata-rata 40 persen
yang dihasilkan melalui penyulingan saguer (cairan putih yang keluar
dari mayang pohon enau atau seho dalam bahasa daerah Minahasa). Tinggi
rendahnya kadar alkohol pada Cap Tikus tergantung pada kualitas
penyulingan. Semakin bagus sistem penyulingannya, semakin tinggi pula
kadar alkoholnya.
Saguer sejak keluar dari mayang pohon enau sudah mengandung alkohol.
Menurut kalangan petani, kadar alkohol yang dikandung saguer juga
tergantung pada cara menuai dan peralatan bambu tempat menampung saguer
saat menetes keluar dari mayang pohon enau.
Untuk mendapatkan saguer yang manis bagaikan gula, bambu penampungan
yang digantungkan pada bagian mayang tempat keluarnya cairan putih
(saguer), berikut saringannya yang terbuat dari ijuk pohon enau harus
bersih. Semakin bersih, saguer semakin manis. Semakin bersih saguer,
maka Cap Tikus yang dihasilkan pun semakin tinggi kualitasnya.
Kadar alkohol pada Cap Tikus tergantung pada teknologi penyulingan.
Petani sejauh ini masih menggunakan teknologi tradisional, yakni saguer
dimasak kemudian uapnya disalurkan dan dialirkan melalui pipa bambu ke
tempat penampungan. Tetesan-tetesan itulah yang kemudian dikenal dengan
minuman Cap Tikus.
Cap Tikus sudah dikenal sejak lama di Tanah Minahasa. Memang tidak
ada catatan pasti kapan Cap Tikus mulai hadir dalam khazanah budaya
Minahasa. Namun, setiap warga Minahasa ketika berbicara tentang Cap
Tikus akan menunjuk bahwa minuman itu mulai dikenal sejak nenek moyang
mereka.
Yang pasti, minuman Cap Tikus sudah sejak dulu sangat akrab dan
populer di kalangan petani Minahasa. Umumnya, petani Minahasa, sebelum
pergi ke kebun atau memulai pekerjaannya, minum satu seloki (gelas
ukuran kecil, sekali teguk) Cap Tikus. Minuman ini, menurut Pendeta Dr.
Richard AD Siwu, dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Tomohon
(Ukit) dikenal oleh setiap orang Minahasa sebagai minuman penghangat
tubuh dan pendorong semangat untuk bekerja.

Menyuling Cap Tikus secara traditional © Remco Fortgens
Sadar betul bahwa Cap Tikus mengandung kadar alkohol tinggi, sudah
sejak dulu orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau
mengontrol minum minuman Cap Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo
menyangkut Cap Tikus, minum satu seloki Cap Tikus, cukup untuk menambah
darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga seloki bakal ke
neraka.
Pak tani minum Cap Tikus karena memang dengan satu seloki semangat
kerja bertambah. Karena itu, minum satu seloki Cap Tikus diartikan
menambah darah, dan semangat kerja.
Tanda awas langsung diucapkan setelah menenggak satu seloki, sebab
jika menambah lagi satu seloki bisa berakibat masuk penjara. Artinya,
dengan dua seloki orang bakal mudah terpancing bertindak berlebihan,
karena kandungan alkohol yang masuk ke tubuhnya membuat orang mudah
tersinggung dan rentan berbuat kriminal.
Jenis minuman ini diproduksi rakyat Minahasa di hutan-hutan atau
perkebunan di sela-sela hutan pohon enau. Pohon enau-atau saguer dalam
bahasa sehari-hari di Manado-disebut pohon saguer karena pohon ini
menghasilkan saguer, atau cairan putih yang rasanya manis keasam-asaman
serta mengandung alkohol sekitar lima persen.
Warung-warung makan di Minahasa pada umumnya juga menjual saguer.
Bahkan, sebagian orang desa sebelum makan lebih dulu meminum saguer
dengan alasan agar bisa makan banyak.
Sisa saguer yang tidak terjual kemudian disuling secara tradisional
menjadi minuman Cap Tikus. Kadar alkoholnya, sesuai penilaian dari
beberapa laboratorium, naik menjadi sekitar 40 persen. Makin bagus
sistem penyulingannya, dan semakin lama disimpan, kadar alkohol Cap
Tikus semakin tinggi. Di kalangan para peminum, Cap Tikus yang baik akan
mengeluarkan nyala api biru ketika disulut korek api.
Mengapa dinamai Cap Tikus? Tidak diperoleh jawaban yang pasti. Ada
dugaan, nama itu dipakai karena pembuatannya dilakukan di sela-sela
pepohonan, tempat tikus hutan bermain hidup.
Jika di masa lalu, khususnya di kalangan para petani, Cap Tikus
menjadi pendorong semangat kerja, lain hal lagi dengan kaum muda
sekarang. Kini Cap Tikus telah berubah menjadi tempat pelarian. Cap
Tikus telah berubah menjadi minuman tempat pelampiasan nafsu serta
menjadi sarana mabuk-mabukan yang kemudian menjadi sumber malapetaka.
Selain bisa diminum langsung, Cap Tikus juga menjadi bahan baku utama
sejumlah pabrik anggur di Manado dan Minahasa. Dengan predikat anggur,
Cap Tikus masuk ke kota dan bahkan di antarpulaukan secara gelap.
Sumber:
http://www.sinarharapan.co.id dan
http://www.kompas.com
Foto: Remco Fortgens dan Jennifer Munger
Fungsi dan Pengertian Tuak Dalam Masyarakat Batak
Sumber:
http://parapat.org/
Tuak merupakan sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren (
Arenga pinnata). Kalau dalam bahasa Indonesia, sadapan dari enau atau
aren disebut nira. Nira tersebut manis rasanya, sedangkan ada dua jenis
tuak sesuai dengan resepnya, yaitu yang manis dan yang pahit (mengandung
alkohol).
Hatta Sunanto [1983:17], seorang Insinyur pertanian, menerangkan:
Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi pada
daerah-daerah yang tanahnya subur pada ketinggian 500-800m di atas
permukaan laut. Pada daerah-daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari
500m dan lebih dari 800m, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun
produksi buanya kurang memuaskan.
Pohon enau atau aren dinamai bagot dalam bahasa Batak Toba. Di
kecamatan Balige yang berketinggian sekitar 900m di atas permukaan laut,
banyak bagot tumbuh sendiri. Dan bagot inilah yang tetap digunakan
untuk menyadap tuak. Sedangkan di Medan yang hampir sama tingginya
dengan permukaan laut, bagot tidak bertumbuh. Oleh karena itu, orang
Medan mengambil sadapan dari pohon kelapa. Namun setelah diproses,
minuman itu tetap dinamai tuak dalam masyarakat Batak Toba.
Produksi dan Distribusi Tuak
Saya menggambarkan dahulu mengenai produksi dan distribusi tuak di
kampung halaman Batak Toba. Sebagaimana telah disinggung di atas,
penyadap tuak disebut paragat ( agat = semacam pisau yang dipakai waktu
menyadap tuak) dalam bahasa Batak Toba. Setelah dipukul tandan
berulang-ulang dengan alat dari kayu yang disebut balbal-balbal selama
beberapa minggu, baru dipotong mayangnya. Kemudian membungkus ujung
tandan tersebut dengan obat (kapur sirih atau keladi yang ditumbuk)
selama dua-tiga hari. Dengan prosedur ini barulah milai datang airnya
dengan lancar. Seorang paragat menyadap tuak dua kali sehari, yaitu pagi
dan sore.
Tuak yang ditampung pagi hari dikumpulkan di rumah paragat. Setelah
ujicoba rasanya, paragat memasukkan ke dalam bak tuak sejenis kulit kayu
yang disebut raru supaya cocok rasanya dan alkoholnya. Raru inilah yang
mengakibatkan peragian.
Resep membuat tuak berbeda-beda sedikit demi sedikit tergantung para
paragat .Resep masing-masing boleh dikatakan “rahasia perusahaan,” maka
tidak tentu siapa pun bisa berhasil sebagai paragat. Paragat harus
belajar dahulu cara kerjanya. Biasanya anak seorang paragat mengikuti
orang tuanya untuk belajar “rahasia” tersebut. Sepanjang saya ketahui,
tidak ada paragat perempuan, mungkin karena kegiatan paragat sehari-hari
yang turun ke jurang, menaiki pohon bagot dan membawa tuak yang
tertampung ke kampung sangat keras untuk perempuan. Di desa LNH yang
berjumlah kurang lebih 1,000 orang penduduknya, terdapat delapan orang
paragat yang aktif. Semuanya ini laki-laki saja.
Sebagian paragat membuka kedai tuak sendiri, tetapi pada umumnya
sebagian besar paragat menjual tuak kepada kedai atau agen tuak. Dengan
dekimian paragat mendapat uang tunai setiap hari, maka taraf kehidupan
paragat lebih tinggi daripada standar di desa LNH.
Di Medan tuak dibawa dari Percut, wilayah yang terletak di luar kota
Medan. Di situ ada kebun kelapa khusus untuk mengambil tuak. Cara
produksi tuak dari pohon kelapa hampir sama dengan tuak dari bagot.
Kebiasaan Minum Tuak dalam Kehidupan Sehari-hari
Di daerah Tapanuli Utara, biasanya laki-laki yang menyelesaikan
kerjanya berkumpul di kedai pada sore hari. Mereka berbincang-bincang,
menyanyi, memain kartu, bercatur dan menonton televisi, sambil minum
tuak. Pada umumnya seorang petani biasa minum tuak beberapa gelas
sehari. Pada tahun 1997 segelas tuak berharga Rp. 300 di desa LNH. Kalau
laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di kedai, tetapi
jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama laki-laki,
kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki yang membeli
tuak di kedai dan membawa botol yang terisi tuak ke rumahnya atau ke
rumah kawannya untuk minum tuak di situ.
Sedangkan di kota Medan, laki-laki Batak Toba tidak tentu mempunyai
kebiasaan minum tuak. Menurut informasi dari beberapa perantau Batak
Toba dan observasi serta wawancara di lapo tuak, kebiasaan minum tuak
tidak berhubungan dengan status sosial-ekonominya, melainkan berkaitan
dengan tahap generasi migran. Dengan kata lain, perantau generasi
pertama yang berasal dari Tapanuli Utara lebih cenderung minum tuak di
Medan: bukan hanya orang-orang yang berstatus rendah sosial-ekonominya
seperti tukang becah, tetapi yang agak tinggi stasus sosial-ekonominya
seperti pegawai negeri juga minum tuak. Segelas tuak di Medan harganya
kurang lebih Rp. 300 juga.
Pemakaian Tuak pada Kesempatan Tertentu untuk Kaum Wanita
Biasanya kaum wanita Batak Toba tidak minum tuak. Namun demikian,
menurut tradisi Batak Toba, wanita yang baru melahirkan anak minum tuak
untuk memperlancar air susunya dan berkeringat banyak guna mengeluarkan
kotoran-kotoran dari badannya.
Selama saya berada di desa LNH, seorang wanita muda melahirkan anak.
Mertuanya menyediakan tuak untuk wanita tersebut, dan dia minum tuak
setiap kali merasa haus. Dia minum tuak sebagai gantinya air minum,
selama paling sedikit satu minggu setelah melahirkan anak.
Tetapi tidak tentu semua wanita Batak Toba yang baru melahirkan anak
minum tuak. Wanita-wanita yang tinggal di kota-kota di perantauan
seperti Medan biasanya tidak minum tuak, walaupun melahirkan anak.
Mereka lebih cenderung minum bir hitam, susu atau obat sesuai dengan
kemampuannya dan kesukaannya untuk memperlancar air susunya.
Wanita tua pada umumnya mengakui bahwa mereka minum tuak ketika
melahirkan anak semasa mudanya. Tetapi sebagian wanita muda yang tinggal
di kampung tidak pernah minum tuak selama menyusui anaknya. Mereka
menjelaskan alasan tidak minum tuak bahwa mereka merasa pening kalau
minum tuak.
Penggunaan Tuak dalam Upacara Adat
Tuak yang ada hubungannya dengan adat adalah tuak tangkasan: tuak
yang tidak bercampur dengan raru. Tuak aslinya manis. Tuak yang manis
disebut tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Karena tuak itu berasal
dari mayang bagot, maka perlu diketahui legenda keberadaan batang bagot.
Seorang tokoh adat yang tinggal di Balige memberitahukan legenda
tersebut sebagai berikut:
Putri si boru Sorbajati dipaksa orang tuanya kawin dengan seorang
laki-laki cacat yang tidak disukainya. Tetapi karena tekanan orang tua
yang sudah penerima uang mahal, si boru Sorbajati meminta agar
dibunyikan gendang di mana dia menari dan akan menentukan sikap. Sewaktu
menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke halaman sehingga terbenam ke
dalam tanah. Kemudian dia menjelma tumbuh sebagai pohon bagot, sehingga
tuak itu disebut aek (air) Sorbajati.
Karena perbuatan yang membunuh diri itu dianggap sebagai perbuatan
terlarang, maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata. Tuak
hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang, orang yang sudah
meninggal dan sebagainya. Tuak bermasuk sebagai minuman adat pada dua
upacara adat resmi, yaitu (1) upacara manuan ompu-ompu dan (2) upacara
manulangi.
Ketika orang yang sudah bercucu meninggal, ditanam beberapa jenis
tanaman di atas tambak. Tambak pada aslinya merupakan kuburan dari tanah
yang terlapis, tetapi kuburan modern yang terbentuk dari semen pula
disebut tambak. Menurut aturan adat, air dan tuak harus dituangkan pada
tanaman di atas tambak. Tetapi sekarang ini biasanya yang dituangkan
hanya air saja, atau paling-paling tuak yang mengandung alkohol.
Dalam upacara manulangi, para keturunan dari seseorang nenek
memberikan makanan secara resmi kepada orang tua tersebut yang sudah
bercucu, dimana turunannya meminta restu, nasehat dan pembagian harta,
disaksikan oleh pengetua-pengetua adat. Pada waktu memberikan makanan
harus disajikan air minum serta tuak. Menurut informasi dari tokoh-tokoh
adat dan observasi secara langsung, air minum dan tuak dua-duanya tetap
disajikan kepada orang tua yang disulangi.
Tulisan di atas adalah Artikel ilmiah dari seorang berkebangsaan
Jepang bernama Shigehiro IKEGAMI. Selama enam tahun sejak tahun 1992,
beliau mempelajari dinamika sosial dan kebudayaan dalam masyarakat Batak
Toba.
Tuak Takkasan
Oleh : Napitupulu Imran, Ir., ditulis pada Agustus 10, 2007
Sumber:
http://tanobatak.wordpress.com/2007/08/10/tuak-takkasan/
Tuak takkasan. Aren. Nira. Bir panjat. Minuman ini merupakan produk
eksotik, minuman khas dan kegemaran sebagian besar halak batak terutama
yang ada di bona pasogit. Tuak atau pohon aren dalam bahasa latin
disebut Arenga pinnata mirip pohon kelapa. Keberadaan tuak atau aren ini
kini terasa semakin langka. Pada hal untuk membudidayakan sebatang
pohon enau hingga terkategorikan dewasa, butuh waktu selama 10 tahun.
Dulu, biasanya tuak atau aren akan tumbuh sendiri di daerah pinggiran
desa atau perbatasan huma dan hutan.
Ada sebuah kedai tuak, lapo ni Ama ni Morsun yang menuliskan semacam
philosofis minum tuak dengan untaian kata yang cukup menggelitik.
Segelas tuak penambah darah. 2 gelas, lancar bicara. 3 gelas, mulai
tertawa-tawa. 4 gelas, mencari gara-gara. 5 gelas, hati membara. 6
gelas, membuat perkara. 7 gelas, semakin menggila. 8 gelas, membuat
sengsara. 9 gelas, masuk penjara dan 10 gelas, masuk neraka. Karenanya
harap maklum.
Banyak orang mempercayai, bahwa pohon aren atau tuak ini ditanam oleh
musang atau luak (Paradoxurus hermaproditus). Binatang musang ini lebih
dikenal orang sebagai pencuri ayam daripada sebagai binatang pemakan
buah aren. Di beberapa daerah di pesisir pulau Jawa musang atau luak ini
memanen dengan paksa kopi milik petani. Mencuri, memakan dan
menghasilkan kopi luak. Pada daerah yang banyak pohon aren biasanya
binatang musang ini akan berkembang karena buah ini sangat digemarinya.
Umumnya daging buah aren yang sudah masak dan manis dilahap dan
dinikmatinya, sedangkan bijinya dibuang/diberakkan melalui sekressi atau
saluran pembuangan di pintu belakang.
Biji yang dibuang inilah yang diyakini dapat berkembang, berkecambah
(walau tidak selalu berhasil), dan kemudian tumbuh sebagai pohon aren di
daerah terpencil yang menjadi habitat musang bersembunyi. Hal ini dapat
terlihat dari pertumbuhan dan penyebaran pohon aren liar itu selalu
tidak teratur. Karena musang tidak pernah memilih dan mengatur tempat
untuk berak sehingga jarak tanamnya tidak teratur. Hasilnya adalah bahwa
kebanyakan aren akan tumbuh di daerah kritis yang tanahnya miring,
setengah gundul karena erosi tanah atau penuh alang-alang. Tempat-tempat
seperti inilah yang merupakan tempat pelarian musang.
Profil ataupun sosok dari pohon Aren atau tuak itu sebenarnya cukup
menyeramkan. Batangnya tinggi, angker, kotor, dengan rambut hitam, bekas
pelepah daun yang tumbuh epifit pada batangnya. Pohon ini terkesan
angker meskipun banyak segi kegunaan dan manfaat yang di dapatkan dari
padanya.
Pohon multi guna :
Berdasarkan banyaknya manfaat yang didapat dari tanaman ini, rasanya
tidak berlebihan jika tuak juga bisa dikategorikan sebagai pohon yang
multi guna. Patinya diolah di pabrik hingga menghasilkan bihun. Selain
itu juga bisa diolah menjadi gula aren, sementara buahnya dapat
dijadikan kolang kaling. Dengan penanganan proses pasca panen, kolang
kaling ini juga bisa berpeluang menembus pasar ekspor jika diolah dan
dikemas dalam bentuk kalengan. Pangkal pelepah daun yang sudah cukup tua
bisa dianyam untuk berbagai produk kerajinan yang bernilai ekonomis
cukup tinggi. Sapunya sebagai ijuk, tali tambang dan sikat.
Konon, katanya dulu ketika masih sulit mendapatkan korek api, kawul
(gumpalan seperti kapas yang terdapat di tengah-tengah pangkal pelepah
daun) digunakan sebagai penyulut api. Daunnya bisa dimanfaatkan sebagai
atap. Tuak yang diminum setelah melalui proses permentasi, berasal dari
tangkai tandan bunga jantan penghasil nira. Bila diproses lebih lanjut,
bisa juga sebagai penghasil cuka. Dengan kegunaan pohon aren atau tuak
yang multi guna ini rasanya budidaya tanaman ini perlu digalakkan (Bukan
merupakan ajakan untuk menggalakkan minum tuak, agar orang batak yang
doyan minum tuak bisa lebih galak. Awas Batak Galak !) Dan yang tidak
kalah pentingnya ialah tuak takkasan seperti di awal tulisan ini bisa
membuat teler hingga lupa daratan.
Budi daya tanaman :
Kegunaan pohon aren yang begitu banyak tersebut perlu diimbangi dengan
usaha untuk melestarikannya. Tanaman ini cukup berpotensi dan mempunyai
prospek yang cemerlang jika teknik budidaya serta persayaratan agronomis
lainnya betul-betul diperhitungkan. Musang yang dianggap berperan dalam
hal penyebaran biji aren, ternyata sekarang sudah mulai langka. Diburu
dan dimusnahkan karena dianggap sebagai hama yang memangsa ayam milik
petani. Pada hal keseimbangan ekosistem merupakan bagian dari pemusnahan
musuh alami. Peran ilmu dan teknologi dituntut di sini. Musang tidak
boleh disetarakan menjadi petugas pertanian yang mengupayakan
pembibitan.
Banyak faktor yang menjadi kunci keberhasilan dalam budi daya tanaman
ini. Selain pembibitan yang memenuhi persyaratan, perawatan yang
teratur juga memegang peranan. Hal penting lainnya, di samping
pengambilan hasil (seperti dalam �maragat�) perlu penanganan yang
bijaksana sehingga pohon dapat berproduksi optimal.
Banyak hal yang menjadi halungunon (kesedihan, miris) sehingga
mengakibatkan pohon aren menjadi langka. Karena untuk dapat tetap
survival, komoditi ini dihadapkan pada beberapa masalah yang krusial. Di
samping berkurangnya populasi musang yang sekaligus berperan sebagai
petugas pembibitan dalam perbanyakan dan penyebaran tanaman, ribuan
pohon-pohon aren akan senantiasa ditebas untuk melayani pabrik bihun
yang diolah dari batangnya. Ditambah lagi penebangan pohon untuk tujuan
sebagai bahan kayu bangunan, talang air, penyangga genting rumah,
tangkai kapak, tangkai cangkul dan lain sebagainya.
Akhir dari halungunon biasanya adalah hajagaron (kebahagiaan) dalam
hal ini mungkin akan dapat terlihat jika pihak berkompeten dan institusi
yang ada di Kabupaten Toba Samosir ini memberi perhatian terutama untuk
kepentingan budi daya. Sebab bila ditilik dan dikaji ulang akan manfaat
besar yang terkandung dari pohon ini, dikaitkan dengan permintaan pasar
untuk ekspor ijuk (bahan untuk jok mobil pabrik Mercedes), gula enau,
dan buah kolang-kaling kemasan kaleng serta serat optik-nya yang sangat
berguna, sepantasnyalah pohon ini dijadikan primadonna, tidak sebatas
pohon “na marbegu” untuk sebutan tuak atau nira. Lissoi..!!!
Fungsi dan Pengertian Tuak Dalam Masyarakat Batak
Sumber:
http://www.silitonga-ku.co.cc/2008/
TUAK
Tuak merupakan sadapan yang diambil dari mayang enau atau aren (
Arenga pinnata). Kalau dalam bahasa Indonesia, sadapan dari enau atau
aren disebut nira. Nira tersebut manis rasanya, sedangkan ada dua jenis
tuak sesuai dengan resepnya, yaitu yang manis dan yang pahit (mengandung
alkohol).
Hatta Sunanto [1983:17], seorang Insinyur pertanian, menerangkan:
“Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi pada
daerah-daerah yang tanahnya subur pada ketinggian 500-800m di atas
permukaan laut. Pada daerah-daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari
500m dan lebih dari 800m, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun
produksi buanya kurang memuaskan.”
Pohon enau atau aren dinamai bagot dalam bahasa Batak Toba. Di
kecamatan Balige yang berketinggian sekitar 900m di atas permukaan laut,
banyak bagot tumbuh sendiri. Dan bagot inilah yang tetap digunakan
untuk menyadap tuak. Sedangkan di Medan yang hampir sama tingginya
dengan permukaan laut, bagot tidak bertumbuh. Oleh karena itu, orang
Medan mengambil sadapan dari pohon kelapa. Namun setelah diproses,
minuman itu tetap dinamai tuak dalam masyarakat Batak Toba.
Produksi dan Distribusi Tuak
Saya menggambarkan dahulu mengenai produksi dan distribusi tuak di
kampung halaman Batak Toba. Sebagaimana telah disinggung di atas,
penyadap tuak disebut paragat ( agat = semacam pisau yang dipakai waktu
menyadap tuak) dalam bahasa Batak Toba. Setelah dipukul tandan
berulang-ulang dengan alat dari kayu yang disebut balbal-balbal selama
beberapa minggu, baru dipotong mayangnya. Kemudian membungkus ujung
tandan tersebut dengan obat (kapur sirih atau keladi yang ditumbuk)
selama dua-tiga hari. Dengan prosedur ini barulah milai datang airnya
dengan lancar. Seorang paragat menyadap tuak dua kali sehari, yaitu pagi
dan sore.
Tuak yang ditampung pagi hari dikumpulkan di rumah paragat. Setelah
ujicoba rasanya, paragat memasukkan ke dalam bak tuak sejenis kulit kayu
yang disebut raru supaya cocok rasanya dan alkoholnya. Raru inilah yang
mengakibatkan peragian.
Resep membuat tuak berbeda-beda sedikit demi sedikit tergantung para
paragat . Resep masing-masing boleh dikatakan “rahasia perusahaan,” maka
tidak tentu siapa pun bisa berhasil sebagai paragat. Paragat harus
belajar dahulu cara kerjanya. Biasanya anak seorang paragat mengikuti
orang tuanya untuk belajar “rahasia” tersebut. Sepanjang saya ketahui,
tidak ada paragat perempuan, mungkin karena kegiatan paragat sehari-hari
yang turun ke jurang, menaiki pohon bagot dan membawa tuak yang
tertampung ke kampung sangat keras untuk perempuan. Di desa LNH yang
berjumlah kurang lebih 1,000 orang penduduknya, terdapat delapan orang
paragat yang aktif. Semuanya ini laki-laki saja.
Sebagian paragat membuka kedai tuak sendiri, tetapi pada umumnya
sebagian besar paragat menjual tuak kepada kedai atau agen tuak. Dengan
dekimian paragat mendapat uang tunai setiap hari, maka taraf kehidupan
paragat lebih tinggi daripada standar di desa LNH.
Di Medan tuak dibawa dari Percut, wilayah yang terletak di luar kota
Medan. Di situ ada kebun kelapa khusus untuk mengambil tuak. Cara
produksi tuak dari pohon kelapa hampir sama dengan tuak dari bagot.
Kebiasaan Minum Tuak dalam Kehidupan Sehari-hari
Di daerah Tapanuli Utara, biasanya laki-laki yang menyelesaikan
kerjanya berkumpul di kedai pada sore hari. Mereka berbincang-bincang,
menyanyi, memain kartu, bercatur dan menonton televisi, sambil minum
tuak. Pada umumnya seorang petani biasa minum tuak beberapa gelas
sehari. Pada tahun 1997 segelas tuak berharga Rp. 300 di desa LNH. Kalau
laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di kedai, tetapi
jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama laki-laki,
kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki yang membeli
tuak di kedai dan membawa botol yang terisi tuak ke rumahnya atau ke
rumah kawannya untuk minum tuak di situ.
Sedangkan di kota Medan, laki-laki Batak Toba tidak tentu mempunyai
kebiasaan minum tuak. Menurut informasi dari beberapa perantau Batak
Toba dan observasi serta wawancara di lapo tuak, kebiasaan minum tuak
tidak berhubungan dengan status sosial-ekonominya, melainkan berkaitan
dengan tahap generasi migran. Dengan kata lain, perantau generasi
pertama yang berasal dari Tapanuli Utara lebih cenderung minum tuak di
Medan: bukan hanya orang-orang yang berstatus rendah sosial-ekonominya
seperti tukang becah, tetapi yang agak tinggi stasus sosial-ekonominya
seperti pegawai negeri juga minum tuak. Segelas tuak di Medan harganya
kurang lebih Rp. 300 juga.
Pemakaian Tuak pada Kesempatan Tertentu untuk Kaum Wanita
Biasanya kaum wanita Batak Toba tidak minum tuak. Namun demikian,
menurut tradisi Batak Toba, wanita yang baru melahirkan anak minum tuak
untuk memperlancar air susunya dan berkeringat banyak guna mengeluarkan
kotoran-kotoran dari badannya.
Selama saya berada di desa LNH, seorang wanita muda melahirkan anak.
Mertuanya menyediakan tuak untuk wanita tersebut, dan dia minum tuak
setiap kali merasa haus. Dia minum tuak sebagai gantinya air minum,
selama paling sedikit satu minggu setelah melahirkan anak.
Tetapi tidak tentu semua wanita Batak Toba yang baru melahirkan anak
minum tuak. Wanita-wanita yang tinggal di kota-kota di perantauan
seperti Medan biasanya tidak minum tuak, walaupun melahirkan anak.
Mereka lebih cenderung minum bir hitam, susu atau obat sesuai dengan
kemampuannya dan kesukaannya untuk memperlancar air susunya.
Wanita tua pada umumnya mengakui bahwa mereka minum tuak ketika
melahirkan anak semasa mudanya. Tetapi sebagian wanita muda yang tinggal
di kampung tidak pernah minum tuak selama menyusui anaknya. Mereka
menjelaskan alasan tidak minum tuak bahwa mereka merasa pening kalau
minum tuak.
Penggunaan Tuak dalam Upacara Adat
Tuak yang ada hubungannya dengan adat adalah tuak tangkasan: tuak
yang tidak bercampur dengan raru. Tuak aslinya manis. Tuak yang manis
disebut tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Karena tuak itu berasal
dari mayang bagot, maka perlu diketahui legenda keberadaan batang bagot.
Seorang tokoh adat yang tinggal di Balige memberitahukan legenda
tersebut sebagai berikut:
Putri si boru Sorbajati dipaksa orang tuanya kawin dengan seorang
laki-laki cacat yang tidak disukainya. Tetapi karena tekanan orang tua
yang sudah penerima uang mahal, si boru Sorbajati meminta agar
dibunyikan gendang di mana dia menari dan akan menentukan sikap. Sewaktu
menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke halaman sehingga terbenam ke
dalam tanah. Kemudian dia menjelma tumbuh sebagai pohon bagot, sehingga
tuak itu disebut aek (air) Sorbajati.
Karena perbuatan yang membunuh diri itu dianggap sebagai perbuatan
terlarang, maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata. Tuak
hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang, orang yang sudah
meninggal dan sebagainya. Tuak bermasuk sebagai minuman adat pada dua
upacara adat resmi, yaitu (1) upacara manuan ompu-ompu dan (2) upacara
manulangi.
Ketika orang yang sudah bercucu meninggal, ditanam beberapa jenis
tanaman di atas tambak. Tambak pada aslinya merupakan kuburan dari tanah
yang terlapis, tetapi kuburan modern yang terbentuk dari semen pula
disebut tambak. Menurut aturan adat, air dan tuak harus dituangkan pada
tanaman di atas tambak. Tetapi sekarang ini biasanya yang dituangkan
hanya air saja, atau paling-paling tuak yang mengandung alkohol.
Dalam upacara manulangi, para keturunan dari seseorang nenek
memberikan makanan secara resmi kepada orang tua tersebut yang sudah
bercucu, dimana turunannya meminta restu, nasehat dan pembagian harta,
disaksikan oleh pengetua-pengetua adat. Pada waktu memberikan makanan
harus disajikan air minum serta tuak. Menurut informasi dari tokoh-tokoh
adat dan observasi secara langsung, air minum dan tuak dua-duanya tetap
disajikan kepada orang tua yang disulangi.
Tulisan di atas adalah Artikel ilmiah dari seorang berkebangsaan
Jepang bernama Shigehiro IKEGAMI. Selama enam tahun sejak tahun 1992,
beliau mempelajari dinamika sosial dan kebudayaan dalam masyarakat Batak
Toba.
Di Tulis Oleh : SILITONGA at Selasa, Juli 29, 2008